Ada tiga unsur penting yang harus kita renungkan, yaitu Brainware, Software, dan Hardware. Allah dalam hal ini bertindak sebagai brainware, yaitu unsur yang memiliki keinginan atau kehendak. Ketika keinginan atau kehendak itu ingin dilaksanakan maka Ia membutuhkan alat atau hardware. Yang menjadi persoalan adalah keinginan atau kehendak brainware tidak dipahami oleh hardware, hal ini karena segala keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh hardware. Untuk itu diperlukan unsur ketiga yang dapat menjembatani kesenjangan komunikasi tersebut. Disinilah berfungsi apa yang disebut software. Pada hakekatnya software adalah sebuah media untuk menterjemaahkan keinginan brainware kedalam bahasa yang dimengerti oleh hardware.
Allah bertindak sebagai perancang system alam semesta, sehingga seluruh komponen sistem termasuk manusia harus tunduk kepada kehendak Nya. Agar hubungan antara brainware dan hardware ini berjalan maka dibutuhkanlah software sebagai penghubung. Jadi kata kuncinya adalah hubungan, ketika koneksi terjadi maka sistem dikatakan berjalan atau hidup. Jadi ketika software Allah tidak bekerja atau tidak berjalan pada manusia, maka manusia tadi dikatakan terputus. Ketika manusia terputus dari kehendak Allah maka segala motivasi hidupnya akan diarahkan kepada kebutuhan fisik atau nafsunya saja. Akal Fikiran sebagai media yang seharusnya digunakan untuk berhubungan dengan kehendak Allah, disandera oleh keinginan jasad, sehingga manusia menjadi sebuah hardware yang memberontak kepada brainware. Kesadarannya dipenuhi oleh virus-virus atau program-program lain selain dari program Allah yang semestinya meng-komando keseluruhan kesadaran manusia. Kondisi ini yang disebut dengan kematian sistem. Kematian sistem berbeda dengan kematian fisik. Kalau kematian fisik adalah peristiwa berhentinya kegiatan faal pada sistem tubuh manusia. Sedangkan kematian sistem adalah peristiwa terputusnya hubungan intruksi dari pencipta dan yang diciptakan sehingga mengakibatkan terjadinya disintegrasi terhadap sub-sub sistem.
Kondisi ini disebut kondisi kegelapan, dimana dalam kondisi ini manusia berlomba-lomba untuk menjadi Tuhan, ia akan berusaha untuk menguasai manusia-manusia lainnya, dengan cara bertindak seperti Tuhan, ia akan menciptakan software-software untuk menandingi software buatan Tuhan. Software buatan manusia yang dimaksud disini adalah ideologi–ideologi yang diciptakan manusia yang berusaha untuk mempengaruhi manusia dengan iming-iming bahwa kelak mereka akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, yang adil, makmur, berdasarkan ideologi bangsanya masing-masing. Semua ideologi buatan manusia selalu menawarkan kehidupan yang lebih baik yang dipercaya oleh orang-orang yang berhasil dipengaruhinya, kemudian merekapun berusaha untuk menyebarkan pahamnya tersebut kepada orang lain, sehingga mereka berhasil untuk mempengaruhi orang sebanyak mungkin sehingga otomatis wilayahnyapun menjadi meluas dan mereka bisa menguasai sumber daya alam lebih luas lagi. Wajar saja kalau kondisi ke gelapan seperti itu yang ada hanyalah persangkaan. Ada orang mengatakan begini jalan keluarnya, kemudian sekelompok orang akan mengikuti dia, yang lain mengatakan bukan, bukan di situ jalan keluarnya tapi di sinilah jalan keluarnya, maka sekelompok orang akan mengikuti dia. akibatnya akan tercipta kelompok-kelompok. Tetap saja mereka berada pada kegelapan. Karena ideologi buatan manusia yang disindir dalam kitab Allah sebagai berhala bukan hanya satu, tetapi banyak, maka terjadilah benturan dan gesekan-gesekan diantara ideologi-ideologi tersebut yang pada akhirnya akan terjadi peperangan yang terus menerus berkelanjutan yang membawa korban kesengsaraan pada umat manusia dan kerusakan alam yang hebat.
Hari ini kita bisa melihat, bangsa dengan bangsa saling berperang. Dalam perang dunia pertama 17 juta manusia telah mati, sedangkan dalam perang dunia kedua 20 juta manusia telah menjadi korban. Kemudian pada hari ini terjadi lagi, dunia digegerkan masalah nuklir dan terorisme. Berapa banyak lagi manusia akan terbunuh? Kalau tidak adanya pertolongan Allah, artinya tidak adanya ummat yang bertindak sebagai wasit, maka manusia bisa punah, bangsa terbunuh dengan bangsa. Yang paling berbahaya adalah kotak-kotak etnis, dan kotak-kotak ideologi, orang yang tidak seideologi dengan mereka adalah musuh yang harus dibunuh habis, contohnya komunis, liberalis. Kita bisa melihat kotak nasionalis, bangsa Israel menganggap bahwa orang yang bukan bangsa Israel adalah binatang, sama pula dengan bangsa Inggris menganggap bahwa orang yang bukan bangsa Inggris boleh diperlakukan apa saja, karena dianggap binatang, demikian juga bangsa Indonesia menganggap bahwa orang yang bukan bangsa Indonesia itu sama dengan musuh bagi faham kebangsaan.
Kita lihat tiap hari ada usaha untuk menghancurkan lintas banga-bangsa, dan hanya konsep langitlah yang dapat mengatasinya.Lebih spesifik kita lihat, bentuk bencana yang terjadi adalah terjadinya chaos atau kekacauan atau kehancuran tatanan kehidupan dalam suatu komunitas bangsa atau komunitas internasional. Bentuk kehidupan jahanam itu adalah rusaknya moral manusia secara merata. Dari sinilah kesengsaraan manusia itu dimulai. Perang antar suku dan bangsa terjadi, pembunuhan merajalela,pembuangan bayi di tempat sampah, membunuh sudah tidak lagi dianggap sebagai suatu tindak kejahatan besar, tetapi sudah berubah menjadi suatu keharusan yang akan mendapat bintang bagi pelakunya. Mencuri, merampok sudah menjadi tradisi, pemerkosaan sudah menjadi hal yang biasa. Kehancuran di bidang ekonomi yang menyengsarakan orang banyak sudah merupakan ilmu dalam bisnis, kemiskinan sudah menjadi tradisi atau lebih ironisnya lagi manjadi aksesoris bangsa, pelacuran dengan menjual kehormatan sudah dianggap sebagai profesi dan lambang selebritis, para penguasa yang seharusnya menjadi penggembala rakyat berubah menjadi pemburu yang sadis, perampok harta rakyat, dan pembunuh hak asasi manusia dan lain sebagainya. Itulah bentuk azab yang menyengsarakan hidup dan kehidupan manusia, disebabkan manusia mengingkari dan mendustakan ayat-ayat Allah.
Hanya kembali kepada Allahlah semua persoalan akan selesai. Kembali kepada Allah dalam artian mengganti software buatan manusia dengan software buatan Allah, maka manusia akan kembali fitrah dan hidup dengan damai dan sejahtera. Amin......
Hadza wallohi yar’ana wa yahfadna walhamdulillahi Robbil’alamin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar